Bandar Lampung — Komunitas Sahabat Difabel Lampung (Sadila) menggelar kegiatan bertajuk “Rumah yang Bercerita: Tentang Cinta yang Menumbuhkan Empati dan Inklusi” dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025 sekaligus Milad ke-7 Sadila, Minggu (14/12/2025), di Gedung Teater Tertutup Dewan Kesenian Lampung (DKL), PKOR Way Halim, Bandar Lampung.
Ketua Sadila, Etik Mudmainah, mengatakan peringatan Milad yang jatuh pada 23 November sengaja dirangkai dengan HDI 3 Desember untuk memperkuat pesan inklusi.
“Sadila setiap tahun selalu memperingati HDI dengan tema berbeda dan menyediakan panggung agar anak-anak difabel bisa menunjukkan minat dan bakat mereka,” ujarnya.
Kegiatan ini diisi pentas seni anak difabel, talk show parenting inklusif, pameran karya disabilitas, serta perayaan Milad Sadila. Etik menyebut tahun ini terasa istimewa karena seluruh rangkaian acara diselenggarakan secara mandiri dengan dukungan sejumlah pihak.
“Meski dikelola sendiri, kami tetap mendapat dukungan dari Yayasan Satunama Yogyakarta, DPRD Kota Bandar Lampung, Dewan Kesenian Lampung, komunitas disabilitas, dan sponsor,” kata dia.
Sebanyak 72 anak difabel dari Bandar Lampung, Kota Metro, serta Kabupaten Lampung Selatan tampil dalam perayaan HDI tahun ini. Menurut Etik, sebagian besar dari mereka baru pertama kali naik panggung.
“Kami ingin anak-anak tampil percaya diri, tidak takut, dan tidak tantrum saat bertemu orang lain,” jelasnya.
Etik juga menyoroti keterbatasan akses pendidikan bagi anak difabel di Bandar Lampung.
“Saat ini hanya ada satu SLBN negeri. Kuota sangat terbatas karena sarana dan guru minim, sementara pendaftar bisa mencapai 80 sampai 100 orang,” ungkapnya.
Ia menegaskan pendidikan inklusif menjadi kebutuhan mendesak agar anak difabel dapat belajar hidup bermasyarakat sejak dini.
Sementara itu, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Bandar Lampung, Dewi Mayang Suri Djausal, menegaskan pentingnya perubahan cara pandang masyarakat terhadap disabilitas.
“Disabilitas bukan kekurangan, melainkan keunikan. Masyarakat tidak boleh menghakimi, tetapi harus melihat kelebihan yang dimiliki,” tegasnya.
Mayang menyatakan DPRD berkomitmen mendorong Pemkot Bandar Lampung memperkuat program inklusif.
“Isu disabilitas sudah menjadi prioritas nasional dalam RPJMN, sehingga harus disinergikan hingga ke daerah, termasuk penyediaan infrastruktur, layanan publik, serta akses pendidikan dan kesehatan yang ramah disabilitas,” pungkasnya.
Saat ini, Sadila menaungi sekitar seratus anak difabel dengan dukungan sekitar 50 relawan.
“Sadila terbuka bagi siapa pun orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Dalam kondisi apa pun, kami siap menerima,” tutup Etik Mudmainah.
Acara kemudian ditutup dengan prosesi pemotongan sekubal, makanan khas Lampung, sebagai simbol kebersamaan, rasa syukur, serta harapan agar semangat inklusi dan empati terhadap penyandang disabilitas terus tumbuh di tengah masyarakat.









